OPINI: Abah Guru Sekumpul, Ketika Keteladanan Lebih Kuat dari Kekuasaan
Guru Sekumpul bak mata air tenang di tengah rimba Kalimantan Selatan, yang kejernihannya mengalir tanpa riuh namun menghidupi banyak hati, beliau bukan hanya suluh yang menerangi jalan, melainkan juga teduh yang menyejukkan langkah, sehingga yang mendekat berubah dan merasa dikuatkan tanpa merasa digurui atau dipaksa arahannya.
Oleh: IBG Dharma Putra
Keteladanan seorang ulama besar kecintaan Tuhan, yang tumbuh seperti pohon besar yang akarnya menancap dalam akhlak, batangnya kokoh oleh ilmu, dan daunnya menaungi lintas generasi, menjadikan cinta masyarakat bukan sekadar kekaguman, melainkan rasa memiliki yang lahir dari ketulusan, kesederhanaan, dan kehadiran yang memuliakan manusia.
Guru Sekumpul yang haulnya baru diperingati, oleh masyarakat secara beramai ramai, adalah ulama sultan, dalam istilah generasi masa kini, petuahnya dipenuhi kearifan, sehingga menjadi favorit dan mampu bertahan abadi dalam hati masyarakat, bukan hanya masyarakat borneo, tapi masyarakat Indonesia, bahkan dunia.
Ingatan spontan itu mungkin berlebihan untuk saya yang cuma dua kali bertemu beliau, saat awal penugasan di Kalimantan Selatan, di saat beliau belum ke puncak popularitasnya, tetapi menyisakan ingatan tentang keunikan profesi yang dimiliki ulama mulia ini. Profesinya sebagai pedagang adalah ruang pemihakan independen yang membuatnya mampu serta bebas, berkata benar itu benar dan salah itu salah, tanpa ada keharusan tunduk pada sponsor, patron, atau kuasa mana pun.
Ketulusan maupun keberanian menyampaikan kebenaran dan bukan pembenaran merupakan
kejujuran tulus seorang ulama besar, membuat beliau bertahan secara alamiah tak memerlukan tepuk tangan sekaligus memberi pencerahan maha penting bahwa hidup tidak selalu tentang dominasi, tetapi tentang adaptasi yang jujur.
Haulnya penuh dengan ajaran, khususnya bagi yang berkuasa, supaya belajar membedakan partisipasi dengan mobilisasi, dua istilah yang kerap disamarkan, seolah serupa padahal tak. Partisipasi tumbuh diawali kepercayaan serta kesadaran, sedangkan mobilisasi sering disulap melalui simbol, instruksi, atau arahan, bahkan perasaan takut, serta bertujuan mengerahkan, dan bukan membebaskan.
Partisipasi lahir dari kehendak mandiri, internal untuk terlibat secara sukarela, bertumbuh dari bawah, sehingga tidak memerlukan komando. Mobilisasi sebaliknya bergerak dari atas, oleh kepentingan, dipelihara oleh relasi kuasa, dan kerap dibungkus legitimasi moral atau agama agar tampak sah. Dalam mobilisasi, masyarakat hadir bukan sebagai subjek, tapi angka semata, diberitakan naik turun dengan persen.
Budaya partisipasi melahirkan pemberdayaan, rasa memiliki, dan keberlanjutan, sebab individu diajak berpikir dan memilih. Mobilisasi semata menciptakan kepatuhan sesaat, dogma kosong, dan ketergantungan pada figur atau elit, hingga rapuh ketika panggung kekuasaan runtuh atau sorak sorai dihentikan.
Melalui haulnya, Guru Sekumpul seakan akan memberi pesan, bahwa partisipasi dimulai dari kesadaran atas persoalan, berkembang menjadi pemahaman dan rasa memiliki, lalu mendorong kemauan terlibat, sehingga menjelma tindakan nyata yang konsisten. Pesan ini bagi saya, bisa sekaligus sebagai kritik halus terhadap praktik sosial yang amat gemar memanen kehadiran, tetapi abai pada kesadaran.
Ulama besar yang mengingatkan bahwa makna hidup menjadi jelas setelah mati dan kesadaran akan arti seseorang akan tampak ketika orang itu telah tiada lagi. Mungkin karena itu tercipta kerinduan, teramat dalam dilengkapi keharuan mesra dalam lautan zikir yang dilantunkan tua muda, tanpa batas usia, kaya miskin, tanpa ada sekat sosial, tidak memerlukan aba aba serta tanpa paksaan.
Popularitas haul disertai nilai ekonominya yang tinggi, tidak menutup kemungkinan negatif yang memerlukan antisipasi. Kelegaan tercipta sebab pihak keluarga terlihat sudah menyadari situasi tersebut, sehingga menghindarkan haul menjadi alat bisnis atau politik, yang potensial membuat haul kehilangan makna mulia pencerahannya dan berubah sebagai komoditas belaka.
Semoga pelajaran dari Ulama ini, tidak berhenti sebagai romantisme, melainkan menjadi cermin kritis bagi praktik sosial, politik, dan keagamaan bersama , bahwa masyarakat menjadi dewasa tidak dibangun lewat pengerahan massa, tetapi melalui penumbuhan kesadaran. Pelajaran lain yang terlihat adalah bahwa keteladanan sejati tidak memerlukan panggung besar karena daya hidup sebuah nilai terlahir dari kejujuran yang konsisten disertai keberanian dan kemandirian, termasuk berdiri di luar arus kuasa. (*)
foto: MC Pemprov Kalsel

Post a Comment