Header Ads

Ketua Ganas Annar MUI Soroti Vape Jadi Media Baru Peredaran Narkoba, Ajak Generasi Muda Melek Literasi

MEDIANUSANOW - Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyoroti maraknya penyalahgunaan liquid vape yang kini diduga menjadi media baru peredaran narkoba di Indonesia.

Fenomena tersebut dinilai sebagai ancaman serius karena memanfaatkan barang legal untuk menyelundupkan zat terlarang.

Ia menjelaskan, vape pada dasarnya merupakan produk legal yang diperjualbelikan secara umum. Namun, persoalan muncul ketika liquid vape dicampur atau disusupi narkoba sehingga sulit terdeteksi masyarakat maupun aparat penegak hukum.

“Vape ini kan media. Jadi bukan dalam arti vape ini ilegal. Tapi vape ini adalah barang legal yang disusupi dengan barang ilegal. Jadi akhirnya menjadi hal yang sulit terdeteksi,” ujarnya, dikutip dari MUI Digital di Kantor MUI Pusat, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan baru dalam upaya pemberantasan narkoba. Sebab, masyarakat kerap melihat vape sebagai barang biasa, padahal dapat disalahgunakan sebagai sarana distribusi zat berbahaya.

Ia menambahkan, sejumlah negara seperti Singapura bahkan telah melarang penggunaan vape karena dinilai lebih besar mudarat daripada manfaatnya, terutama dari sisi kesehatan.

Karena itu, Ganas Annar MUI akan menggelar silaturahmi nasional yang menghadirkan narasumber dari Badan Narkotika Nasional dan Komisi Fatwa MUI. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat pemahaman pengurus di seluruh daerah mengenai bahaya peredaran narkoba melalui liquid vape dalam perspektif kesehatan, ekonomi serta kebijakan pemerintah.

“Ini semacam warning, semacam peringatan, bahwa vape ini sudah banyak dipakai masyarakat, ternyata berpotensi menjadi barang ilegal karena disusupi narkoba,” katanya.

Selain menyoroti vape, ia juga mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi peredaran narkoba di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan. Salah satu faktor utama, kata dia, adalah harga narkoba yang semakin murah sehingga dapat dijangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Narkoba di Indonesia ini yang pertama mengenai harga. Harganya itu murah, sehingga semua lapisan masyarakat, bahkan masyarakat bawah bisa mendapatkan narkoba,” ungkapnya.

Ia juga menyebut modus peredaran narkoba kini semakin beragam. Tidak sedikit narkoba dipasarkan seolah-olah sebagai obat penambah stamina atau penghilang kantuk bagi pekerja tertentu seperti nelayan, sopir malam, hingga pekerja tambang.

Untuk langkah nyata, Ganas Annar MUI selama ini fokus pada dakwah pencegahan serta membantu proses rehabilitasi korban narkoba melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga rehabilitasi pemerintah maupun swasta.

Selain itu, ia juga mengajak generasi muda agar memperkuat literasi dan kepedulian sosial terhadap bahaya narkoba.

“Saya ingin menghimbau kepada semua generasi muda, pertama itu perkuat literasi. Kita jangan hanya diam. Minimal kita melaporkan kalau ada kondisi misalnya bandar narkoba,” tegasnya.

Ia menilai, perang melawan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, khususnya anak muda sebagai generasi penerus bangsa. (mnn)


close
pop up banner