Budayawan Soroti Fenomena “Dipintarinya” dalam Relasi Kekuasaan dan Demokrasi
MEDIANUSANOW - Budayawan Banjar Noorhalis Majid menyoroti fenomena sosial yang ia sebut sebagai “dipintarinya”, sebuah ungkapan dalam kebudayaan Banjar yang menggambarkan praktik dominasi melalui kepintaran yang timpang dalam kehidupan sosial dan politik. Fenomena ini, menurutnya, masih relevan dan kerap muncul dalam relasi kekuasaan, kebijakan publik, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam artikel ini, pembaca akan mengetahui:
1. Makna ungkapan kebudayaan Banjar “dipintarinya” dalam konteks sosial dan demokrasi.
Cara kepintaran bekerja sebagai alat dominasi dan pembentuk hierarki sosial.
2. Hubungan antara kepintaran, intimidasi, dan praktik penindasan yang berlangsung secara halus.
3. Pandangan etis tentang kepintaran sebagai anugerah yang semestinya digunakan untuk mengayomi, bukan menindas.
4. Kritik terhadap penyalahgunaan kepintaran dalam kekuasaan yang memicu ketimpangan dan ketidakadilan.
Noorhalis menjelaskan, dalam pandangan kebudayaan Banjar, pada dasarnya tidak ada manusia yang benar-benar bodoh. Setiap orang memiliki kepintaran, namun dengan tingkatan yang berbeda. “Di atas langit masih ada langit. Di atas orang pintar, selalu ada yang lebih pintar,” tulisnya.
Menurut dia, seseorang kerap terperdaya bukan karena kebodohan, melainkan karena berhadapan dengan pihak yang memiliki tingkat kepintaran lebih tinggi dan memanfaatkannya untuk kepentingan tertentu. Praktik memperdaya inilah yang dalam istilah Banjar disebut dipintarinya.
Ia menilai, dalam kehidupan sosial kerap terjadi hierarki dominasi, di mana yang kuat menekan yang lemah. Praktik tersebut dapat muncul dalam bentuk intimidasi, perundungan, hingga manipulasi kebijakan. Dalam kondisi itu, pihak dengan tingkat kepintaran paling rendah sering kali menjadi korban.
Noorhalis menyebut, kesadaran akan dipintarinya sejatinya adalah kesadaran akan posisi diri yang kalah atau memilih mengalah. Namun, ia mengingatkan bahwa kepintaran yang digunakan untuk mendominasi tidak selalu berujung pada kemuliaan. “Banyak contoh, akibat suka memintari orang lain, justru berujung pada akibat buruk bagi dirinya sendiri,” tulisnya.
Ia menegaskan, kepintaran merupakan anugerah Tuhan yang seharusnya dimanfaatkan untuk menolong, melindungi, dan memberikan pencerahan, bukan untuk menindas atau memperdaya. Menurutnya, penyalahgunaan kepintaran dalam kekuasaan menjadi salah satu penyebab munculnya penyimpangan kebijakan, eksploitasi sumber daya alam, serta ketimpangan ekonomi.
“Kondisi hari ini menunjukkan hierarki dominasi sedang bekerja secara berlebihan. Banyak hal berjalan tidak sebagaimana mestinya karena kepintaran digunakan untuk kepentingan sempit,” tulis Noorhalis.
Ia menutup tulisannya dengan refleksi bahwa berbagai kebobrokan sosial sejatinya dipahami dan disadari bersama. Namun, karena banyak pihak merasa paling pintar dan gemar memintari, masyarakat kerap hanya bisa menyaksikan dan menunggu akibatnya. “Pada akhirnya, semua akan menuai konsekuensinya sendiri,” ujarnya. (esw)

Post a Comment