Header Ads

Buta Aksara Al-Qur’an Masih Tinggi, Inovasi dari Daerah Menguat di Tengah Gerakan Nasional

MEDIANUSANOW - Persoalan buta aksara Al-Qur’an di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Sejumlah riset dalam rentang 2023–2025 menunjukkan angka Muslim Indonesia yang belum mampu membaca Al-Qur’an berada pada kisaran 53,57 persen hingga 72,25 persen. 

Kondisi ini mendorong lahirnya berbagai inisiatif pengentasan literasi Al-Qur’an, baik dari pemerintah, lembaga keagamaan, maupun inovasi di tingkat akar rumput.

Data terbaru Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menyebutkan 72,25 persen Muslim Indonesia masih buta huruf Al-Qur’an. Sementara itu, data lain mencatat angka 65 persen, dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 menyebutkan angka 53,57 persen. 

Tingginya angka tersebut menunjukkan literasi Al-Qur’an masih menjadi persoalan struktural, terutama di kalangan pelajar dan masyarakat di wilayah pedesaan.

Di tengah kondisi tersebut, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Anwar Hidayat, membawa inovasi percepatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ke ajang PAI Award 2025 tingkat Provinsi Jawa Barat. 

Inovasi yang diusung berupa metode pembelajaran QOLAAM (Iqro Klasikal, Cepat, Mudah, dan Menyenangkan), yang dirancang untuk menjawab keterbatasan waktu dan tenaga pengajar di Madrasah Diniyah.

“Buta aksara Al-Qur’an masih banyak ditemukan, khususnya di daerah pedesaan dan di kalangan peserta didik. Ini menjadi tantangan nyata yang saya temui di lapangan,” ujar Anwar.

Ia menjelaskan, sejumlah faktor menjadi penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an, antara lain keterbatasan kompetensi dan jumlah guru, rendahnya minat belajar murid, minimnya motivasi keluarga, serta waktu belajar yang sangat terbatas, rata-rata hanya sekitar 60 menit per hari. 

Metode QOLAAM dikembangkan sejak 2022 melalui penelitian di Madrasah Diniyah Annur Kalipucang dan kini mulai diterapkan di sejumlah lembaga pendidikan keagamaan di Pangandaran melalui seminar dan pelatihan guru.

Upaya di tingkat lokal tersebut sejalan dengan gerakan nasional. Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan program Dana Abadi Literasi Al-Qur’an (DALA) di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat (14/5/2025). Program ini merupakan skema wakaf produktif yang ditujukan khusus untuk pengentasan buta huruf Al-Qur’an.

Sekretaris Lembaga Wakaf MUI, Guntur Subagja Mahardika, menjelaskan bahwa DALA merupakan hasil kolaborasi Lembaga Wakaf MUI, Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat (KPEU) MUI, Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (Pinbas MUI), dan Istiqlal Global Fund. Implementasinya didukung Sahabat Wakaf MUI bersama para relawan.

“Dana wakaf yang dihimpun akan digunakan untuk literasi, edukasi, sosialisasi, penggalangan dana, dan penyaluran manfaat wakaf. Dana tersebut diinvestasikan pada instrumen keuangan syariah dan sektor riil,” kata Guntur.

Ia mengungkapkan, hasil penelitian IIQ Jakarta (2024) menunjukkan 6 dari 10 Muslim Indonesia tidak bisa membaca Al-Qur’an, dengan angka buta huruf mencapai 72,25 persen. Sementara itu, kajian lain mencatat Muslim Indonesia yang buta aksara Al-Qur’an sebesar 58,57 persen, dan kajian Kementerian Agama menyebut angka 38,49 persen, yang berada pada kategori kemampuan membaca cukup dan kurang.

Menurut Guntur, hasil investasi dana wakaf DALA akan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk pengentasan buta huruf Al-Qur’an, antara lain melalui pengadaan mushaf, pengembangan metode pengajaran, serta program literasi Al-Qur’an lainnya. Dana wakaf diinvestasikan pada instrumen keuangan syariah seperti Deposito Wakaf, Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), saham syariah, dan portofolio keuangan syariah lainnya yang telah memiliki fatwa MUI dan izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berbagai data tersebut menegaskan bahwa pengentasan buta aksara Al-Qur’an memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, mulai dari kebijakan nasional, dukungan pembiayaan, hingga inovasi pembelajaran di tingkat lokal. Inovasi yang diusung Anwar Hidayat melalui PAI Award 2025 menjadi salah satu contoh upaya konkret dari akar rumput dalam menjawab tantangan literasi Al-Qur’an di Indonesia. (mnn)
close
pop up banner